Di Jepang Perawat Indonesia Ungguli Perawat Filipina
PDF
Cetak
Surel
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 17 Desember 2012 13:01


Kamis (14/12) – Tenaga kerja Indonesia (TKI) perawat yang bekerja di Jepang keahliannya ternyata jauh lebih unggul daripada perawat Filipina. Baik itu TKI nurse (perawat yang bekerja di rumah sakit) maupun TKI careworker (perawat yang bekerja merawat para lanjut usia di Panti Jompo).

Demikian diungkapkan Deputi Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch dalam sambutannya saat membuka Diklat Bahasa Jepang bagi 157 TKI perawat yang akan bekerja di Jepang yang diselenggarakan di Gedung Graha HB Yasin P4TKI Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Gardu Srengsengsawah, Jagakarsa, Jakarta Jumat (14/12). “Jika start bekerjanya sama-sama dimulai dari nol atau awal, TKI jauh lebih unggul dibanding tenaga kerja dari Filipina. Contohnya adalah, TKI perawat di Jepang,” katanya.

Ade Adam Noch menjelaskan, 157 TKI perawat yang menjalani Diklat Bahasa Jepang selama enam bulan di Indonesia – dan kemudian dilanjutkan enam bulan di Jepang -- ini merupakan angkatan ke-6. Penempatan TKI perawat ke Jepang terjadi melalui program kerjasama antarpemerintah (Government to Government/G to G) berdasarkan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara BNP2TKI atasnama pemerintah Indonesia dengan JICWELS (Japan International Corporation for Welfare Services) -- yakni lembaga bentukan pemerintah Jepang yang membawahi program G to G penempatan TKI perawat -- di Jakarta, pada Mei 2008. Program ini menindaklanjuti kesepakatan Indonesia-Jepang Economic Partnership (IJEPA) yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe di Tokyo, Jepang, pada November 2006.

Ade Adam Noch menambahkan penempatan TKI perawat ke Jepang sejak tahun 2008 – 2012 sudah mencapai sebanyak 892 orang, terdiri atas 392 TKI nurse dan 500 TKI carworker. Sedangkan penempatan perawat dari Filiphina ke Jepang dilakukan sejak 2009 – 2012 mencapai sebanyak 670 orang, terdiri dari 237 nurse dan 433 careworker. Penempatan TKI perawat ke Jepang ini lebih banyak 322 orang (yakni 892 perawat Indonesia – 670 perawat Filipina,) daripada penempatan perawat dari Filipina.

Lalu, lanjut Ade Adam Noch, di dalam hal kelulusan ujian nasional Bahasa Jepang, jumlah kelulusan TKI perawat mengungguli Filiphina sebanyak 71 orang. Yakni jumlah TKI perawat yang lulus ujian nasional Bahasa Jepang sebanyak 86 orang – terdiri dari 51 nurse dan 35 careworker -- sedangkan perawat Filiphina sebanyak 15 orang nurse.

Diklat Bahasa Jepang bagi TKI perawat angkatan ke-6 ini sebetulnya diikuti 158 TKI perawat, terdiri dari 48 TKI nurse dan 110 TKI careworker. Namun seoarang TKI careworker bernama Yoana Fransisca Dian Kristiani asal Kotagede, Yogyakarta, dinyatakan lulus level 2, sehingga ia dibebaskan dari Diklat Bahasa Jepang bersama 157 TKI perawat lainnya.

Ade Adam Noch berharap, dalam rangka meningkatkan jumlah calon TKI perawat ini, agar kiranya Pemerintah Jepang didalam melakukan proses rekrut mempertimbangkan persyaratan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 2 tahun dapat ditinjau menjadi 1 tahun pengalaman kerja. Disamping itu, kebijakan perpanjangan kontrak kerja bagi TKI perawat (nurse dan careworker) selama 1 tahun untuk angkatan 1 dan 2, hendaknya kebijakan tersebut dapat diberlakukan pula bagi angkatan 3, 4, 5 dan seterusnya dengan ketentuan nilai ujian nasional Bahasa Jepang yang mendekati kelulusan.

Berikutnya, kata Ade Adam Noch, bagi TKI perawat yang tidak lulus ujian nasional Bahasa Jepang dan telah pulang ke Indonesia, agar kiranya diberikan kesempatan mengikuti ujian nasional melalui online di Indonesia. Atrau bisa dipekerjakan pada perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di Indonesia.(mam/b)